pendidikan seks mulai masuk kampus

Pendidikan Seks Mulai Masuk Kampus – Pemahaman tentang isu seksualitas dan kesehatan reproduksi (kespro) kini mulai diperkenalkan secara formal di kampus. Modul tentang integrasi gender, kesehatan reproduksi dan seksualitas kini masuk dalam kurikulum. Peluncuran modul kespro ini dilakukan di Kementerian Pendidikan Nasional ( Kemendiknas) Jakarta, Jumat (25 3 /2011) kemarin. Direktur Yayasan Jurnal Perempuan Marianna Amiruddin, menyatakan isu seksualitas dan kesehatan reproduksi memang penting untuk dimasukkan dalam kurikulum.  Dalam tahap awal ini, terang Amiruddin, sudah ada tiga kampus yang mau bekeja sama dalam memperkenalkan modul ini kepada mahasiswa.  “Kampus-kampus itu antara lain Atmajaya Yogyakarta, IKJ (Institut Kesenian Jakarta), dan Moestopo beragama,” ujar Amiruddin. Dalam modul tersebut, diajarkan bagaimana isu-isu perempuan dan tubuhnya misalnya, soal kehamilan yang tidak diinginkan, menstruasi, bahkan sampai masalah kepemimpinan. Dalam sejarahnya, kesehatan reproduksi mengacu pada ICPD ( International Conference on Population Development) di Kairo 1994. Pada konferensi tersebutlah, pertama kali dikeluarkannya konsep kesehatan reproduksi. “Konsep kesehatan reproduksi memiliki elemen seperti kesehatan ibu dan anak, Keluarga Berencana, aborsi, kekerasan terhadap perempuan, kemandulan, HIV AIDS dan keterlibatan pria dalam kesehatan reproduksi,” ujar Atashendartini Habsjah dari Yayasan Kesehatan Perempuan. Menurutnya, kesehatan reproduksi dan seksualitas tidak terlepas dari kehidupan manusia. Seksualitas dan kesehatan merupakan dasar dari kehidupan laki-laki dan perempuan. Keterlibatan pria dalam kesehatan reproduksi dirasa sangat perlu dan memegang peranan yang penting. “Dalam segala, misalnya kalau istrinya hamil dia harus ikut. Untuk KB, jangan hanya paksakan perempuan yang ikut, karena pria kan bisa pakai kondom juga,” lanjut Atashendartini. Dalam dokumen ICPD, Kesehatan reproduksi erat kaitannya dengan HAM, dimana isinya terbagi tiga, yakni respek, perlindungan dan pemenuhan. Dimana ketiga hal tersebut adalah kewajiban sebuah negara terhadap warga negaranya. “Pemahaman ini sangat penting, pasalnya jika setiap orang dapat memahami, maka tidak akan terjadi pemerkosaan jika saling respek,” imbuhnya. Atashendartini menilai, pemahaman kesehatan reproduksi dan seksualitas masih sangat minim.  “Paling tidak SMP dan SMA, tapi kalau soal gender sebaiknya mulai dari SD agar mereka saling respek dan tidak terjadi bias gender,” pungkasnya.

~ by imammukyidin15 on March 26, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: