Sanggupkan Indonesia Mengembangkan Tenaga Nuklir?

Ada rencana besar bahwa Indonesia akan mengembangkan proyek tenaga nuklir di bilangan Jepara, Jawa tengah. Mengapa banyak masyarakat, termasuk saya, ragu-ragu (khawatir) Indonesia bakalan tidak mampu mengelola proyek maha hebat ini dan cenderung menolaknya?

Pertama, proyek-proyek sering dikorupsi.  Rasanya sudah membudaya …. Proyek apa pun dan sekecil apa pun rasanya tidak ada yang tidak di mark up bujetnya, lalu ketika realisasinya dikorupsilah anggaran itu. Tembok nuklir misalnya yang mestinya 1 meter (100 cm), “Kurang-kurang dikit menjadi 90 cm ndak papa kali ya….,” kata pemborong. Sementara semen yang harusnya dipakai kelas 1 (paling bagus), “Ya mungkin pakai semen di bawahnya atau kelas 2 kayaknya ndak papa… wong sama-sama judulnya semen gitu loh…” kata si pemborong juga.

Kedua, banyak tukang tipu. Ingat dulu, ada ide menciptakan sumber energi dari air (blue energy), bagaimana kabarnya? Jadi, bisa jadi para pengelola proyek tenaga nuklir ini menipu bahwa dia sudah cukup mampu dan sanggup untuk mengembangkan proyek ini, padahal …… belum tentu (teruji) juga.

Saya jadi ingat ketika menginterview karyawan baru. “Kamu bisa menjalankan pogram ini dan itu…?” Yang saya interview menjawab “Oooo bisa Pak..” katanya dengan mantap. Tapi ketika praktik, dia kok bingung. “Kenapa? kok bingung? Katanya bisa…” ….. ‘Eh anu Pak.. ndak bingung kok .. Pak… Cuma cara nyalain komputer ini tombnolnya di mana ya Pak…?”…. Gubrraaakkk…!!!

Ketiga, bangsa yang menerima (permisif). Kalau sampai kejadian nanti nuklir bocor ya terima saja. Itu dianggap bukan sebagai kelalaian pengelolanya, tapi lebih merupakan sebagai bencana atau kecelakaan yang harus bisa diterima oleh masyarakat. Banyak pejabat yang suka ngeles, ketika ada kegagalan dalam bidang/departemennya, dengan kata-kata itu kan bencana alam, kecelakaan dlsb. Seperti kasus Lapindo, lalu jalan RE Marthadinata, Ancol yang amblas, dsb. Padahal mungkin saat awal pembangunannya, dia dengan begitu bangga dan yakin bahwa pembangunan proyek itu sangat terukur, terencana dan presisi. Sehingga bangunan akan kuat walaupun dihantam badai, dsb.

Keempat, kita adalah masyarakat yang sering tidak mempedulikan kepetingan/keselamatan umum. Konon, baut-baut jembatan suramadu, bisa dicolong orang-orang tak bertanggung jawab. Tak mustahil bangunan dalam proyek nuklir itu nantinya juga dipretelin onderdilnya oleh oknum. Tak memperdulikan efek yang nanti bisa ditimbulkannya apakah kebocoran berupa polusi, emisi, radiasi dan si-si yang lainnya…

Entahlah alasan apa lagi menurut Anda.. tapi sebenarnya bila mau kita pelihara dan perbaiki saja sumber energi yang sudah ada (PLTU, PLTA, PLTG).  Kita upayakan biar bisa berfungsi dengan optimal dan maksimal. Jangan sampai ada yang hilang dalam penyalurannya.  Intinya, kita harus lebih banyak memanfaatkan yang ada lebih dulu serta lebih banyak latihan dan belajar disiplin dulu sebelum masuk ke era nuklir.

~ by imammukyidin15 on March 4, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: