AIDS ‘Mengguncang’ Aceh

Ada lima berita tentang AIDS di Aceh (3/3-2011), yaitu: (1) 1.627 Warga Aceh Diduga Terjangkit HIV/AIDS (okezone.com), (2) 1.627 Warga Aceh Diduga Terjangkit HIV (suaramerdeka.com), (3) Ribuan Warga Aceh Terjangkit HIV? (vivanews.com), (4) Hubungan Seks Penyebab Utama Penyebaran HIV/AIDS di Aceh (mediaindonesia.com), (5) dan Wagub Aceh, Duh, 1.000 Warga Aceh Terjangkit HIV (kompas.com)

Dari lima berita itu tidak ada penjelasan tentang sumber angka tsb. Yang ada adalah penjelasan bahwa jumlah tersebut merupakan estimasi (perkiraan). Dewi Fahriana, staf KPAP Aceh, mengatakan: Hingga Desember 2010 estimasi orang yang terkena HIV di Aceh mencapai 1.627 orang. Penyebabnya didominasi melalui hubungan seks atau heteroseks,”

Tapi, lagi-lagi tidak ada penjelasan mengapa ada 1.627 peduduk Aceh yang diperkirakan sudah tertular HIV. Bahkan, ada pernyataan lain: Dari estimasi 1.627 orang tersebut sekira 289 orang statusnya sudah meningkat menjadi AIDS. Angka ini kian mesterius. Soalnya, kalau sudah ada 289 pengidap HIV yang sudah masuk masa AIDS tentulah sudah banyak yang berobat. Disebutkan bahwa “sekira 289 orang statusnya sudah meningkat menjadi AIDS”. Ini tidak akurat karena masa AIDS bukan peningkatan dari HIV.

Data lain menunjukkan dalam 6 tahun terakhir sudah terdeteksi 71 kasus HIV/AIDS, yang terdiri atas 13 HIV-positif dan 58 AIDS. Jika 58 kasus AIDS itu terdeteksi pada laki-laki maka mereka menjadi mata rantai penyebaran HIV antara 5 – 15 tahun tanpa mereka sadari.

Menurut Dewi, “Banyak penderita HIV masih enggan buka mulut terkait penyakitnya karena takut dikucilkan masyarakat. Stigma negatif terhadap HIV dan AIDS masih sangat kental di masyarakat, sehingga banyak kasus HIV belum terdeteksi.”

Pernyataan Dewi ini tidak akurat karena yang terjadi justru banyak orang yang sudah tertular HIV tapi tidak menyadarinya. Ini terjadi karena sebelum masa AIDS (antara 5-15 tahun setelah tertular HIV) tidak ada gejala yang khas AIDS pada fisik mereka. Tapi, mereka sudah bisa menularkan HIV kepada orang lain, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam atau di luar nikah. Data menunjukkan 60 persen kasus HIV/AIDS yang terdeteksi tertular melalui hubungan seksual.

Tingkat penyebaran HIV melalui hubungan seksual yang besar terkait dengan (praktek) pelacuran di Aceh dan perilaku laki-laki dewasa di luar Aceh. Dengan menerapkan hukum syariat Islam di Aceh memang tidak ada pelacuaran terbuka. Tapi, apaka ada jaminan di Aceh tidak ada (praktek) pelacuran? Di Meulaboh, misalnya, polisi terus mencari pekerja seks komersial (PSK) yang dikabarkan beroperasi di sana (Lihat: http://edukasi.kompasiana.com/2011/01/09/polisi-%E2%80%98mencari%E2%80%99-psk-di-meulaboh-aceh/).

Begitu pula dengan perilaku sebagian laki-laki dewasa penduduk Aceh di luar Aceh. Apakah Pemprov Aceh bisa menjamin tidak ada laki-laki dewasa pendudukAceh, asli atau pendatang, yang melakukan huungan seksual tanpa kondom dengan pasngan yang berganti-ganti atau dengan yang sering ganti-ganti pasangan,seperti PSK, di luar Aceh? Kalau jawabannya TIDAK, maka laki-laki penduduk Aceh yang tertular HIV di luar Aceh akan menjadi mata rantai penyebaran HIV di Aceh. Semua terjadi tanpa disadari.
Dewi menyebutkan mayoritas penderita HIV dan AIDS di Aceh saat ini berjenis kelamin laki-laki yang rata-rata masih berusia produktif. Tidak jelas apa kaitan langsung antara ‘usia produktif’ dengan penularan HIV.

Dalam berita di vivanews disebukan: “Kasus HIV meningkat karena pengaruh keterbukaan paskakonflik dan tsunami.” Pernyataan ini menyesatkan dan merupapakan salah satu bentuk penyangkalan. Tidak ada kaitan langsung antara ‘keterbukaan daerah’ dengan penularan HIV karena bisa saja penduduk setempat pergi ke luar daerah. Buktinya, ditemukan dua laki-laki di Aceh Utara yang tertular HIV di luar Aceh. Tapi, di Aceh mereka menjadi mata rantai penyebaran HIV (Lihat: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/23/aids-di-aceh-utara-%E2%80%98dibawa-dari-luar%E2%80%99/).

Seorang laki-laki dari Bireuen menelepon penulis: “Pak, saya khilaf ketika pergi ke Medan saya ‘main’ dengan cewek tidak pakai pengaman.” Laki-laki ini kebingungan karena ada keluhan di penisnya. “Apakah saya kena AIDS?” Laki-laki ini sudah dirujuk ke VCT di RSUD Cut Meutia Lhokseumawe.

Pengaitan kasus HIV/AIDS di Aceh dengan tsunami pun merupakan penyangkalan yang justru memperburuk epidemi HIV karena yang terjadi adalah menyalahkan orang lain sebagia ‘kambing hitam’. Padahal, penularan HIV juga sudah terjadi jauh sebelum tsunami (Lihat: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/16/menyesatkan-informasi-tentang-insiden-hivaids-di-aceh-terjadi-pasca-tsunami/). Tulisan ini ditanggapi oleh seorang kompasioner sebagai ‘tidak penting’. Entah ada alasan kompasioner tsb. mengatakan bahwa pembahasan tentang pengaitan tsunami dengan epidemi HIV di Aceh tidak penting.
Dikabarkan Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, yang juga Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Aceh, mengatakan bahwa narkoba penyumbang terbesar kasus HIV/AIDS di Aceh. Tapi, menurut Dewi, narkoba hanya menyumbang 20 persen dari kasus penyebaran HIV/AIDS di Aceh. Yang dikhawatirkan pengaitan narkoba dengan penyebaran HIV di Aceh sebagai penyangkalan terkait dengan perilaku seks penduduk.

Terkait dengan penemuan kasus HIV/AIDS yang banyak terdeteksi di kalangan pengguna narkoba terjadi karena mereka wajib tes HIV ketika hendak menjalani rehabilitasi. Sebaliknya, kasus HIV/AIDS di kalangan dewasa yang tertular melalui hubungan seksual tidak banyak yang terdeteksi karena tidak ada mekanisme yang bisa mendeteksi kasus HIV/AIDS di masyarakat.

Menurut Dewi: “Orang-orang yang terjangkit kebanyakan karena ditularkan orang yang pernah meninggalkan Aceh saat konflik dan tsunami. Rata-rata kasusnya memang seperti itu. Memang setiap kasus itu baru bisa dideteksi setelah lima tahun. Sebelum konflik dan tsunami juga ada, …”

Pertanyaannya adalah: Apakah orang-orang yang keluar Aceh menjalani tes HIV ketika mereka meninggalkan Aceh saat konflik? Kalau jawabannya TIDAK maka tidak ada bukti bahwa mereka tertular di luar Aceh.

Maka, kasus HIV/AIDS yang ada di masyarakat tapi tidak terdeteksi akan menjadi ‘bom waktu’ ledakan AIDS di masa yang akan datang. Jika Pemprov Aceh tidak mempunyai mekanisme untuk mendeteksi kasus HIV/AIDS yang ada di masyarakat maka tinggal menuai ‘panen’ AIDS. ***

~ by imammukyidin15 on March 4, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: